Bencana yang terjadi di Indonesia telah menimbulkan dampak yang cukup besar terutama pada masyarakat di daerah pesisir, yang akan berdampak kepada sumberdaya manusia sektor kelautan dan perikanan,  dampak tersebut juga terimbas kepada anak-anak sekolah yang berada di wilayah pesisir tersebut. Di sektor pendidikan, bencana dapat berdampak pada bangunan sekolah dan infrastruktur sekolah, termasuk siswa dan guru serta komponen sekolah lainnya yang merupakan bagian dari komunitas sekolah.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa lebih dari 130.000 bangunan sekolah berpotensi terhantam bencana gempa bumi. Oleh karena itu upaya untuk meminimumkan risiko di sekolah menjadi hal yang utama, salah satunya melalui peningkatan kesiapsiagaan komunitas sekolah. Faktor penting lain yang mendukung perlunya kesiapsiagaan komunitas sekolah adalah jumlah siswa yang banyak di sekolah menjadi kondisi tersebut sangat rentan terhadap bencana yang berpotensi terjadi. Jumlah korban dapat lebih besar dibandingkan dengan di daerah dengan populasi yang sedikit dan jarang. Diharapkan upaya kesiapsiagaan komunitas sekolah dapat mengurangi korban jiwa maupun kerugian akibat bencana. Salah satu upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah melalui peningkatan kapasitas komunitas sekolah yang terdiri dari unsur siswa, guru dan komponen sekolah lainnya.

Inisiatif untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas sekolah terhadap bencana telah dilakukan di berbagai tingkat administratif. Menindaklanjuti amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Kementerian Pendidikan Nasional telah menyusun strategi pengurangan risiko bencana di Sekolah yang dilengkapi dengan modul bahan ajar dan pelatihan pengintegrasian pengurangan risiko bencana. Melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70a/MPN/SE/2010. Pelaksanaan strategi pengarusutamaan pengurangan risiko bencana di sekolah dilakukan baik secara struktural maupun non-struktural guna mewujudkan budaya kesiapsiagaan dan keselamatan terhadap bencana di sekolah.

Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM-KP) terpanggil untuk terlibat langsung dalam kegiatan pemulihan masyarakat pesisir yang terdampak akibat tsunami di Selat Sunda pada Hari Sabtu, Tanggal 22 Desember 2018.

Dari tiga tahapan bencana yang terdiri dari tanggap darurat, rekonstruksi, dan rehabilitasi, KKP akan berfokus pada tahapan ketiga yaitu rehabilitasi. Sementara 2 tahapan sebelumnya merupakan wewenang lembaga lain yang memiliki prioritas dalam tindakan pasca bencana. Bentuk rehabilitasi yang akan dilakukan adalah berupa kegiatan sekolah lapang (sekolah sementara) yang ditujukan bagi putra-putri masyarakat pesisir terdampak. Adapun kegiatan sekolah lapang ini direncanakan berlangsung selama 2 bulan sambil menunggu penyelesaian pemukiman yang akan disediakan oleh Pemerintah.

TUJUAN

Menambah pengetahuan SDM masyarakat pesisir terdampak selama masa tanggap bencana sampai rumah hunian sementara selesai, berupa :

  1. Memberi pengetahuan tentang laut dan ekosistemnya
  2. Bahaya – bahaya dan kondisi darurat di wilayah pesisir
  3. Pengetahuan tentang perikanan (pengolahan, budidaya, penangkapan, konservasi, dan sumberdaya laut).
  4. Trauma healing melalui sekolah lapang yang ditujukan bagi putra-putri masyarakat pesisir
  5. Menumbuhkan rasa cinta terhadap kelautan dan perikanan
  6. Memberikan motivasi dalam menjalani kehidupan kedepannya.

 

OUTPUT KEGIATAN

  1. Bangkitnya kembali semangat anak-anak yang terdampak tsunami sehingga mereka bisa menata masa depan dengan penuh keyakinan diri
  2. Tumbuhnya rasa cinta terhadap sumberdaya laut dan pesisir
  3. Memahami bahaya-bahaya bencana di daerah pesisir dan cara mengatasinya
  4. Menyambung Silaturahmi antara KKP dalam hal ini BRSDMKP dengan masyarakat wilayah pesisir Banten
  5. Meningkatkan peran dan kepedulian Satker UPT Pendidikan Kelautan dan Perikanan dalam hal ini difasilitasi oleh Sekolah Tinggi Perikanan

Oleh : Tim HUMAS STP

Related posts:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *