Jakarta – Taruna/i Sekolah Tinggi Perikanan (STP) mempresentasikan hasil Praktik Integrasi taruna STP di Aula Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan yang berada di Jalan Sempur No. 1 Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat (21/11/2018). Didampingi Dr. Mugi Mulyono, S.St.Pi, M.Si dan Dr. Drs. Djumbuh Rukmono,M.P selaku Dosen Program Studi Teknologi Akuakultur STP, sebanyak 11 orang taruna yang telah ditempatkan di 11 lokasi terkait program kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mendiskusikan hasil Praktik Integrasi yang telah dilaksanakan sejak tanggal 15 Agustus s.d. 15 Oktober 2018. Adapun program kerja tersebut berupa pemberian bantuan sarana/prasarana budidaya ikan lele sistem bioflok dan budidaya ikan/udang sistem minapadi.

Program bantuan sarana/prasarana budidaya ikan lele sistem bioflok merupakan program KKP tahun 2017-2018 yang diberikan kepada 73 pondok pesantren yang tersebar di 15 provinsi. Program ini ditargetkan akan menyasar pemberdayaan terhadap setidaknya 78.500 santri atau siswa (DJPB, 2014). Sedangkan budidaya ikan/udang sistem minapadi merupakan program utama KKP yang dimulai pada tahun 2018 mencapai Rp 7,5 miliar dengan rincian 250 unit tersebar di 6 provinsi. Bantuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan outcome budidaya ikan hasil minapadi sebanyak 10,67 ton/tahun dengan nilai Rp45,33 miliar/tahun (DJPB, 2018).

Kepala Subdit Ikan Konsumsi, Direktorat Produksi Dan Usaha Budidaya (DJPB), Tajuddin Idris, M.T mengharapkan kerjasama antara STP dengan DJPB dapat terlaksana secara berkelanjutan, sehingga taruna memperoleh pengalaman lapangan untuk menganalisis permasalahan yang ada, serta dapat membantu Direktorat Usaha dan Produksi Budidaya dalam memantau dan mengevaluasi perkembangan program bantuan yang telah diberikan. “Kami sangat berharap bahwa kegiatan ini bisa menjadi tolak ukur atas keberhasilan dari program kegiatan yang sudah kita laksanakan pada tahun-tahun sebelumnya dan menjadi bahan evaluasi dan pemantapan program kegiatan untuk kegiatan-kegiatan yang akan datang. Kami terus terang sangat terbantu, dan mudah-mudahan ini menjadi kolaborasi internal KKP yang baik antara kami sebagai pembina program dan adik-adik sebagai pendamping program dan keberlangsungan program kegiatan di lapangan baik di pondok pesantren dan masyarakat sekitar. Keberhasilan tidak bisa independen harus mendapat dukungan dan integrasi yang baik dari semua pihak” ujar Tajuddin Idris.

Related posts:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *